Di tinjau oleh :

Kenapa Ada Gigi Tumbuh di Gusi Belakang? Ini Penyebabnya

Gigi Tumbuh di Gusi Belakang

Table of Contents

Pernahkah kamu merasakan rasa sakit atau tidak nyaman di bagian belakang gusi? Atau mungkin saat menggigit makanan atau menyikat gigi, kamu merasa ada sesuatu yang menonjol di paling dalam mulutmu?

Banyak orang merasa heran ketika menemukan ada gigi baru yang tumbuh, apalagi di belakang gusi, kok bisa ada gigi yang keluar lagi di belakang? Apakah ini kondisi normal, ataukah tanda awal masalah yang perlu diperhatikan serius?

Sebagian besar kasus memang disebabkan oleh gigi bungsu yang baru mulai muncul. Namun, tidak hanya itu saja yang bisa menyebabkan gigi tumbuh di belakang gusi. Yuk, cari tahu bersama apa saja penyebabnya, agar kamu bisa lebih memahami kondisi mulutmu dan mengetahui langkah yang perlu diambil jika diperlukan.

Penyebab Gigi Tumbuh di Gusi Belakang

Kamu mungkin masih bingung dan bertanya-tanya, kenapa tepatnya gigi bisa tumbuh di bagian paling belakang gusi? Padahal seharusnya semua gigi sudah keluar.

Faktanya, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab utama kondisi ini terjadi. Mari bahas satu per satu, agar kamu bisa memahami dengan jelas apa yang terjadi di dalam mulutmu. Berikut penjelasan selengkapnya!

1. Ukuran Rahang untuk Gigi Bungsu

Adanya perubahan pola makan dan pertumbuhan struktur tubuh yang lebih kompleks, membuat ruang yang tersedia untuk menampung gigi menjadi lebih terbatas. Gigi bungsu merupakan gigi terakhir yang tumbuh, dan biasanya menjadi korban dari keterbatasan ruang ini.

Gigi bungsu umumnya mulai muncul ketika kamu berusia antara 17 hingga 25 tahun, saat semua gigi permanen lainnya sudah menempati posisinya di rahang. Jika ruang tidak cukup, maka gigi bungsu tidak bisa tumbuh tegak dan sejajar dengan gigi lain.

Akibatnya, ia hanya bisa keluar sebagian atau bahkan terjebak di bawah permukaan gusi. Kondisi rahang yang terlalu kecil juga bisa membuat gigi bungsu sama sekali tidak mampu menembus gusi.

Ini bukan hanya menyebabkan rasa tidak nyaman, namun juga meningkatkan risiko terjadinya masalah seperti peradangan atau infeksi karena area tersebut sulit dibersihkan dengan baik.

2. Arah Pertumbuhan Gigi Tidak Normal

Tidak semua gigi tumbuh dengan arah yang tepat, terutama gigi bungsu. Beberapa kasus menunjukkan bahwa gigi yang satu ini bisa tumbuh dengan berbagai arah menyimpang, seperti miring ke arah depan, ke belakang, atau bahkan horizontal menyamping.

Penyebab utamanya adalah adanya rintangan dari gigi lain atau struktur tulang rahang di sekitarnya. Jika gigi bungsu tumbuh miring ke depan, ia akan memberikan tekanan terus-menerus pada gigi geraham kedua yang berada di depannya.

Tekanan tersebut tidak hanya menyebabkan rasa sakit yang mengganggu, melainkan bisa merusak enamel gigi lainnya atau membuat susunan gigi berantakan. Jika tumbuh ke belakang, gigi bisa menekan dinding dalam rahang dan menyebabkan ketidaknyamanan di sisi wajah.

Gigi bungsu yang tumbuh secara horizontal biasanya benar-benar tertanam di jaringan gusi dan hanya terdeteksi melalui pemeriksaan rontgen. Kondisi ini disebut impaksi total dan memerlukan evaluasi mendalam dari dokter gigi untuk penanganan yang aman dan tepat.

3. Faktor Genetik dan Keturunan

Faktor keturunan memiliki peran penting dalam bagaimana gigi tumbuh di dalam mulutmu. Jika salah satu atau kedua orang tua pernah mengalami masalah gigi bungsu, baik tidak tumbuh sama sekali, tumbuh salah posisi, atau mengalami impaksi, kamu memiliki risiko untuk menghadapi kondisi yang sama.

Beberapa kondisi genetik juga bisa menyebabkan munculnya gigi tambahan di belakang gusi. Tubuh menghasilkan lebih banyak gigi dari jumlah normal. Gigi tambahan ini bisa muncul di berbagai bagian rahang, termasuk tepat di belakang barisan gigi geraham yang sudah ada.

4. Hambatan Fisik di Dalam Mulut

Hambatan fisik yang ada di dalam mulut bisa menjadi penyebab utama gigi tumbuh di belakang gusi. Misalnya, jika ada gigi tetangga yang tumbuh tidak rapi, atau ada sisa akar gigi yang tidak terangkat dengan benar setelah pencabutan, hal ini bisa menghalangi jalur pertumbuhan alami gigi bungsu atau gigi tambahan lainnya.

Selain itu, adanya benjolan atau pertumbuhan jaringan yang tidak normal di area belakang gusi juga bisa menjadi rintangan. Bahkan gigi palsu atau pelurus gigi yang tidak dipasang dengan tepat bisa mempengaruhi cara gigi baru tumbuh di bagian belakang rahang.

Semua faktor tersebut membuat gigi tidak bisa keluar dengan posisi benar dan terpaksa tumbuh di belakang. Kondisi ini menyebabkan rasa tidak nyaman dan membuat area tersebut sulit dibersihkan, sehingga risiko plak, karang gigi, atau infeksi meningkat jika tidak segera ditangani dokter gigi.

5. Kondisi Kesehatan

Kondisi kesehatan dan lingkungan sekitar juga mempengaruhi pertumbuhan gigi di belakang gusi. Misalnya, kurangnya nutrisi penting seperti kalsium, vitamin D, atau fosfor saat kanak-kanak bisa menyebabkan masalah pada perkembangan gigi dan rahang, yang berdampak pada cara gigi tumbuh di kemudian hari.

Cedera pada rahang atau wajah saat muda juga bisa mengganggu pertumbuhan gigi. Cedera yang tidak ditangani dengan benar dapat mengubah struktur tulang rahang atau merusak folikel gigi yang sedang berkembang, sehingga membuat gigi keluar dengan posisi tidak normal.

Kebersihan mulut yang kurang baik juga menjadi faktor penting. Penumpukan makanan dan bakteri di area belakang gusi bisa menyebabkan peradangan saat gigi mulai menembus gusi. Peradangan ini membuat pertumbuhan tidak lancar dan meningkatkan risiko infeksi yang bisa menyebar ke bagian lain mulut atau rahang.

Dampak Gigi Tumbuh di Gusi Belakang

Gigi yang tumbuh di belakang gusi, khususnya gigi bungsu sering menimbulkan ketidaknyamanan karena posisinya tidak ideal. Area sekitarnya sulit dibersihkan, sehingga makanan dan bakteri mudah menumpuk dan memicu peradangan gusi.

Kondisi seperti itu disebut perikoronitis, yang bisa menyebabkan nyeri saat mengunyah, gusi merah bengkak, bahkan bau mulut tidak sedap. Jika dibiarkan, gigi yang tumbuh tidak normal bisa memberikan tekanan terus-menerus pada gigi tetangga.

Tekanan tersebut bisa merusak enamel gigi tetangga, membuatnya lebih rentan berlubang atau mengganggu susunan gigi secara keseluruhan. Pada kasus impaksi total gigi terjebak di gusi risiko terbentuknya kista atau abses meningkat, yang dapat merusak tulang rahang dan jaringan sekitarnya jika tidak ditangani.

Selain masalah pada gigi dan gusi, dampaknya juga bisa menjalar ke bagian lain tubuh. Nyeri dari gigi belakang sering menyebar ke telinga atau kepala, menyebabkan sakit kepala kronis atau ketidaknyamanan pada rahang.

BACA JUGA : Gigi Geraham Berlubang Parah

Konsultasikan Kesehatan Gigi Sejak Dini

Kesehatan gigi tidak bisa ditawar-tawar, mulailah jaga dan periksakan secara rutin sejak dini untuk hindari masalah kompleks di kemudian hari. Pemeriksaan berkala membantu dokter mendeteksi berbagai kondisi, mulai dari plak hingga impaksi gigi bungsu, sebelum gejala muncul atau memburuk.

Jadikan pemeriksaan gigi sebagai bagian dari rutinitas kesehatanmu dan anggota keluarga, baik untuk anak-anak, remaja, maupun dewasa, setiap 6 bulan sekali adalah jadwal yang sangat disarankan oleh para ahli kesehatan gigi. Jangan biarkan rasa takut atau kurang informasi membuatmu menunda perawatan gigi ya.

Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisi gigimu, mulai dari pemeriksaan dasar, scaling, hingga perawatan khusus seperti pencabutan gigi bungsu atau penanganan impaksi. Jika kamu ingin merawat kesehatan gigi dan mulut dengan layanan yang terpercaya, kunjungi Dental Clinic Surabaya atau kunjungi website resminya di Dentalogy untuk informasi lebih lanjut atau melakukan booking jadwal pemeriksaan.

Informasi lebih lanjut bisa klik link di bawah ini!

Website Resmi : dentalogy.id